Ingin Anak Tumbuh Optimal? Cukupi Gizi di 1.000 Hari Pertama

Posted on September 2, 2017 by Yasmin Hospital in Artikel

Yogyakarta, Setiap orang tua pasti ingin anaknya tumbuh pintar dan sehat. Namun banyak yang tak menyadari bila ini sangat bergantung pada pemenuhan gizinya, bahkan sejak dalam kandungan. Dokter ahli gizi pun mengatakan pemenuhan gizi harus dilakukan di 1.000 hari pertama kehidupan anak.

“Mengapa ini penting? Karena sebetulnya sejak 8 minggu pertama dalam kandungan, sudah terbentuk cikal bakal semua organ kita, mulai dari otak, jantung, lengan, kaki, dst. Setelah lahir pun sebagian organ tersebut masih berkembang, terutama di 2-3 tahun pertama,” tutur Prof dr Endang L Achadi, MPH, Dr.PH., di seminar Nutritalk dalam rangka ulang tahun ke-60 Sari Husada di Hotel Hyatt Yogyakarta dan ditulis Rabu (3/9/2014).

Apalagi staf pengajar Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat UI itu mengingatkan, bila gizi bayi dalam 1000 hari pertama kehidupannya tidak terpenuhi maka dampaknya akan bersifat permanen atau sulit untuk diperbaiki.

Dampak seperti apa yang dimaksud? Dalam kesempatan yang sama, Prof Endang menegaskan ada tiga akibat krusial yang bisa terjadi pada anak bila gizinya tak terpenuhi selama 1000 hari pertama kehidupannya.

“Pertama, pendek. Pendek ini baru salah satu aspek luarnya saja. Biasanya disertai dengan kurang pandai dan kurang tangkas, karena otak dan organ lain tidak berkembang di 1.000 hari pertama tadi. Jadi bukan karena kita keturunan lambat atau pendek, tapi ada masalah di pertumbuhan organ di 1.000 hari pertama,” jelasnya.

Kemudian dampak menonjol lain dari kekurangan gizi di 1.000 hari pertama kehidupan anak menurut Prof Endang adalah risiko terserang penyakit tidak menular (PTM)-nya tinggi.

“Saat dewasa, mereka lebih berisiko mengidap penyakit-penyakit momok seperti hipertensi, diabetes, stroke dan penyakit jantung karena kekurangan gizi di 1000 hari pertama mengakibatkan hambatan atau perlambatan pertumbuhan organ seperti jantung, pankreas, ginjal. Organ-organ ini tumbuh lebih kecil atau tidak optimal sehingga fungsinya pun menjadi lebih minim,” sambungnya Padahal Prof Endang juga menjelaskan masalah ini sangat relevan dengan keadaan di Indonesia, mengingat tingginya angka stunting (pendek) pada anak-anak Indonesia. Ketua II PP PDGMI (Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia) ini mengungkapkan menurut hasil Riskesdas 2013, angka balita stunting di Indonesia rata-rata mencapai 37,2 persen.

“Jumlahnya sama antara anak perempuan dan laki-laki. Dan ini terjadi di lebih kurang 20 provinsi di Indonesia, bahkan pada waktu dilihat per provinsi seperti di Jawa Timur, Jawa Barat, Banten dan Jawa Tengah, angkanya di atas 30 persen atau di atas rata-rata nasional,” ungkapnya.

“Ini bukan masalah kurang gizi sehari-dua hari, tapi lama dan berulang, kronis, terutama pada 1000 hari pertama. Padahal pendek di bawah usia dua tahun itu nanti juga berkorelasi dengan risiko penyakit tidak menular (PTM) pada si anak ketika dewasa nanti,” tutupnya.

Sumber : http://health.detik.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>