MARI PERIKSA “PAP SMEAR”

Posted on October 30, 2015 by Yasmin Hospital in Artikel

PAPANIKOLAOU test atau pap smear adalah metode screening ginekologi merupakan pemeriksaan leher rahim (serviks) menggunakan alat yang dinamakan speculum dan dilakukan oleh Ahli. Pemeriksaan ini untuk mengetahui adanya HPV ataupun sel karsinoma penyebab Kanker Leher Rahim.

“Pap smear penting pada semua perempuan yang sudah pernah melakukan hubungan seksual!” tegas Dr dr Dwiana Ocviyanti SpOG (K), Spesialis kebidanan dan kandungan dari FK UI–RSCM, Jakarta.

“Perempuan yang sudah melakukan kontak hubungan seksual selama tiga tahun dari kontak seksual pertama kali WAJIB melakukan pap smear,” sambung dokter yang biasa disapa dr Ovy ini.

Lantas, seperti apakah pap smear itu?

Deteksi Dini Kanker Serviks

Pap smear atau Pap Test adalah tes spesifik yang digunakan dan ditujukan untuk mendeteksi dini kanker leher rahim/kanker serviks.

Mengapa pap smear menjadi salah satu pemeriksaan yang penting untuk perempuan yang telah aktif secara seksual? Pasalnya, aktivitas seksual merupakan salah satu predisposisi kanker serviks.

Pap smear memang hanya merupakan metoda skrining yang fungsinya untuk menapis. Walau begitu, pap smear mampu mendeteksi lebih dari 90 persen kanker leher rahim tahap awal yang masih bisa disembuhkan.

“Kanker leher rahim pada stadium awal tidak ada gejala, apalagi lesi prakanker yang sama sekali tidak bergejala,” ungkap dr Ovy.

Yup, perjalanan penyakit ini hingga disebut penyakit dapat diibaratkan seperti pergerakan siput karena pertumbuhannya yang lambat, membutuhkan waktu sekitar 10 sampai 20 tahun menuju kanker dan selama masa itu hampir tidak ada gejala yang ditimbulkan.

Cara Kerja

Pap smear dianjurkan dilakukan minimal satu kali dalam satu tahun. Dijelaskan oleh dr Ovy, pap smear dilakukan di atas meja ginekologi oleh seorang dokter atau bidan terlatih. Pemeriksaan dalam ini menggunakan alat yang disebut spekulum yang berfungsi untuk membuka liang vagina.

Sesudah dibuka lalu pemeriksa akan mengambil cairan leher rahim menggunakan suatu alat yang disebut spatula dan suatu sikat kecil yang halus. Cairan dari serviks kemudian dioles pada object glass dan dibawa ke laboratorium untuk proses dan membutuhkan waktu sekira 3–7 hari hingga “dibaca” oleh seorang ahli patologi.

Kemudian, dari hasil pemeriksaan bisa diketahui apakah sel-sel leher rahim yang tampak itu normal atau sudah menunjukkan tanda-tanda tidak normal.

Belum Tentu Kanker

Bila ternyata terdapat sel tidak normal, apakah itu positif kanker serviks? Tidak!

“Jangan dulu panik, karena dari 80 persen sel yang tidak normal belum tentu kanker, bisa disebabkan oleh virus yang terinfeksi atau karena peradangan sebab lain,” dr Ovy menenangkan.

Nah, jika dilihat dari perbandingan, mungkin hanya sekitar 10 persen hasil pap smear yang bermasalah.

“Dari seluruh hasil pap smear yang menunjukkan masalah, hanya sekitar satu persen saja yang berpotensi untuk menjadi kanker serviks,” katanya.

Faktor Risiko Tinggi

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko menderita kanker serviks yang dikenal dengan faktor risiko tinggi, yakni perempuan yang telah berhubungan seksual di usia muda (kurang dari usia 21 tahun) atau melahirkan di usia muda, berganti-ganti pasangan seksual, mempunyai banyak anak, perempuan yang merokok atau menjadi perokok pasif.

“Tapi tidak berarti tanpa faktor risiko ini seorang perempuan tidak dapat terkena kanker serviks, loh!,” papar dr Ovy.

Ya, harus dibuang jauh-jauh pemikiran bahwa hanya perempuan yang berisiko tinggi saja yang perlu melakukan pap smear. Karena kenyataannya kanker serviks dapat terjadi pada siapa saja.

“Banyak perempuan yang tidak memiliki keluhan lalu merasa tidak perlu melakukan pap smear. Sebenarnya itu salah, justru yang tidak ada keluhan dan merasa baik-baik saja wajib hukumnya melakukan pap smear. Jangan sampai nanti mereka datang untuk melakukan pap smear ternyata kankernya sudah stadium lanjut. Lebih baik mencegah daripada mengobati,” terang dr Ovy serius.

Penting Saat Akan Melakukan Pap Smear

Jika Anda ingin melakukan pap smear, ada beberapa hal yang sepertinya sepele tapi ternyata perlu dihindari karena akan memengaruhi keakuratan hasil pemeriksaan, antara lain:

1. Tidak boleh sedang haid atau ada perdarahan. Jika ingin melakukan pap smear sebaiknya tiga hari sesudah haid selesai.
2. Tidak boleh berhubungan seksual walaupun menggunakan kondom sekalipun, minimal 2 hari terhitung 2×24 jam.
3. Tidak boleh memakai douch, cairan pembersih vagina, sabun sirih atau antiseptik sejenisnya yang dimasukkan ke dalam vagina (bila sekadar untuk membersihkan daerah bagian luar vagina atau untuk cebok diperbolehkan).
4. Tidak sedang hamil. Jika hendak pap smear sebaiknya dilakukan dua atau tiga bulan setelah melahirkan. Pada masa ini, umumnya darah nifas atau cairan pada masa nifas sudah tidak ada. Ibu juga lebih siap untuk melakukan pemeriksaan dalam.

Para ahli juga menyatakan ada rekomendasi baru untuk pap smear, yang dibedakan menurut kelompok usia dan riwayat kesehatan. Di antaranya:

1. Perempuan antara usia 21-65 tahun dapat memperpanjang skrining kanker serviks-nya setiap 5 tahun jika menjalani tes human papilloma virus (HPV) pada saat yang sama seperti pap smear. Infeksi HPV adalah salah satu penyebab utama kanker serviks.

2. Perempuan yang usianya melebihi 65 tahun dan pernah melakukan skrining sebelumnya dan dinyatakan tidak berisiko tinggi dan tidak perlu lagi melakukan pap smear.

3. Perempuan di bawah usia 30 tahun tidak boleh menjalani tes HPV. Karena infeksi sangat lazim pada perempuan usia muda tapi bisa sembuh tanpa harus diobati.

4. Perempuan yang telah menjalani histerektomi dengan pengangkatan leher rahim dan yang tidak memiliki riwayat kantker serviks atau prakanker tidak perlu diskrining, karena risiko yang terkait dengan skrining lebih besar daripada manfaatnya.

Di Mana dan Berapa?

Khusus  Peserta BPJS Umur 30 keatas , Pemeriksaan PAP SMEAR bisa dilakukan Secara Gratis di Rumah Sakit Yasmin Banyuwangi

4 Fakta Penting!

1. Perempuan yang termasuk faktor risiko tinggi tetap hanya dianjurkan melakukan pap smear  satu tahun sekali, KECUALI bila didapatkan sebelumnya hasil pemeriksaan yang abnormal, maka dianjurkan untuk melakukan pap smear lebih sering sesuai saran dokter kandungan.
2. Wanita yang sudah diangkat kandungannya tanpa disertai pengangkatan mulut rahim tetap disarankan melakukan pap smear setahun sekali.
3. Wanita menopause tetap berisiko menderita kanker serviks, sedangkan mereka yang sudah dioperasi amat tergantung jenis operasi yang dikerjakan, bila masih ada leher rahimnya tetap berisiko untuk kanker serviks dan harus pap smear.
4. Mereka yang sudah berusia 67 tahun bahkan baru boleh berhenti pap smear bila dua tahun berturut turut sebelumnya hasil pap smear-nya normal. (nsa)

Sumber :

http://lifestyle.okezone.com | http://www.parentsindonesia.com

Pencarian Artikel ini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>