Penanganan Alergi Susu Sapi (ASS) pada Bayi dan Anak

Posted on September 8, 2017 by Yasmin Hospital in Artikel

Pada beberapa tahun terakhir terdapat peningkatan insidens Alergi Susu Sapi (ASS) sekitar 2-7.5% dan ASS juga dapat terjadi pada 0.5% bayi yang mendapat ASI eksklusif. Alergi Susu Sapi (ASS) timbul karena daya tahan tubuh memiliki sensitivitas berlebihan terhadap protein susu sapi yang bagi individu lain tidak berbahaya. Walaupun susu sapi adalah penyebab alergi tersering, susu kambing, domba dan kerbau juga dapat menyebabkan reaksi alergi. Protein susu sapi yang menjadi penyebab alergi adalah Casein, Lactoglobulin, Lactalbumin dan Serum albumin yang terkandung dalam susu sapi. Jadi konsumsi daging tidak akan menyebabkan alergi. Gejala alergi umumnya terjadi saat peralihan dari ASI menjadi konsumsi susu formula (penyapihan/weaning). Gejala ASS akan muncul dalam satu jam (reaksi cepat) atau setelah satu jam (reaksi lambat) setelah mengkomsumsi protein susu sapi.

Untuk mengetahui apakah seorang anak benar mengalami alergi, orang tua sebaiknya mengenali gejala alerginya (apakah berlangsung cukup lama, apakah sering berulang dengan penyebab yang sama dan apakah ada riwayat keluarga yang alergi ?). Gejala ASS tidak spesifik, bisa terjadi pada saluran cerna (50-60%), kulit (50-60%) dan saluran pernapasan (20-30%). Biasanya diawali dengan gangguan saluran cerna, mulai dari muntah, kembung, nyeri perut, diare yang terkadang disertai dengan darah, konstipasi (sembelit), bahkan dapat menganggu pertumbuhan badan anak. Gejala lain adalah reaksi pada kulit (ruam kulit, gatal-gatal, eksim, dan angioedema), anemia (pucat), saluran napas (batuk pilek berulang, asma dan napas jadi sering berbunyi ‘grok-grok’), dan syok.

Penegakkan diagnosis untuk alergi susu sapi adalah dengan adanya riwayat alergi terhadap protein susu sapi, diet eliminasi (menghentikan susu sapi dan produknya) dan provokasi makanan (pengenalan kembali protein susu sapi dan produknya setelah diet eliminasi) dan pemeriksaan tambahan seperti uji tusuk kulit (Skin prick test), pemeriksaan darah (kadar IgE spesifik),  endoskopi dan biopsi.

Bayi dengan faktor risiko tidak toleran terhadap protein susu sapi membutuhkan penanganan sejak dini untuk mencapai tumbuh kembang optimal dan pencegahan dampak jangka panjang, seperti gangguan perilaku sosial, performa sekolah, dan prestasi akademik. penanganan terbaik ASS adalah pemberian nutrisi awal kehidupan yang tepat (mudah dicerna dan toleran), menghindari susu sapi atau produk sejenisnya sebagai penyebab munculnya reaksi alergi, penggunaan formula terhidrolisasi sebagian/parsial, terhidrolisis seluruhnya/ekstensif  atau formula asam amino lebih disarankan, dibandingkan dengan penggunaan susu kedelai (soya). Formula terhidrolisasi sebagian digunakan untuk mencegah timbulnya gejala alergi pada anak yang memiliki resiko alergi karena faktor keturunan, sedangkan formula  terhidrolisasi seluruhnya atau formula asam amino diberikan kepada anak yang telah menunjukkan gejala alergi. Apabila susu formula terhidrolisat ekstensif/parsial atau asam amino tidak tersedia atau terdapat kendala biaya, maka sebagai alternatif bayi dapat diberikan susu formula yang mengandung isolat protein kedelai dengan penjelesan kepada orang tua kemungkinan adanya reaksi silang alergi terhadap protein kedelai pada bayi. Pemberian soya bukanlah solusi tepat untuk mengatasi masalah alergi susu sapi karena 40% anak yang alergi terhadap susu sapi ternyata juga memiliki alergi terhadap susu soya. Pemberian soya mungkin akan memperbaiki gejala dalam 1-2 bulan, tapi alergi akan kembali muncul setelahnya. Susu formula kedelai tidak direkomendasikan untuk bayi usia 0- 6 bulan, tapi bisa dicoba pertama sebagai susu alternatif pada bayi usia di atas 6 bulan. Formula kedelai yang dapat digunakan adalah formula kedelai yang sudah diformulasikan untuk anak dan tidak boleh menggunakan susu kedelai segar/murni atau yang dibuat untuk dewasa karena kandungan nutrisinya tidak sesuai untuk anak. Tata laksana dengan obat-obatan diberikan sesuai dengan gejala yang terjadi.

Alergi susu sapi juga dapat terjadi pada bayi dengan ASI ekslusif. Penangananya dengan cara meneruskan pemberian ASI ekslusif, ibu harus menghindari susu sapi dan produk turunannya pada makanan sehari-harinya sampai usia bayi 9-12 bulan atau minimal selama 6 bulan dan pemberian suplemen kalsium untuk ibu menyusui.

Perilaku mengganti susu dengan jenis yang tidak benar menjadi suatu masalah. Kesalahan memutuskan pemilihan susu pada anak berdampak panjang di masa depan. Alergi susu sapi sebagian besar akan berkurang seiring usia. Sebagian besar anak-anak sembuh dari alergi susu sapi pada usia 3 tahun, angka kesembuhan (toleran) 45-55% pada tahun pertama, 60-75% pada tahun kedua dan 90% pada tahun ketiga. Namun, terjadinya alergi terhadap makanan lain juga meningkat hingga 50% terutama pada jenis: telur, kedelai, kacang, sitrus, ikan dan sereal, sehingga kemungkinan adanya alergi terhadap makanan tersebut juga harus dipikirkan.

—————————————————————————————————————-

Silahkan konsultasikan kesehatan Anak Anda ke poli Anak RS Yasmin setiap pagi : Senin s/d Kamis Pukul 08.00 – 12.00 WIB, Jumat : 07.00 – 10.00 WIB, Sabtu : 08.00 – 10.00 WIB Malam : 18.30 s/d Selesai

 dan untuk keadaan darurat, silahkan hubungi UGD 24 JAM RS Yasmin di nomor telepon (0333) 423118. Info seputar RS Yasmin 0333 – 424671 | Web www.yasminhospital.com

Follow Social Media RS YASMIN

Instagram : @yasminhospital | Facebook : yasminhospital | Twitter : @yasminhospital

Pencarian Artikel ini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>